widgets
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2015

Pertemuan dan Perpisahan

Oleh : XII IPS 1 T.A. 2014/2015 SMA Negeri 2 Rantau Utara
Dibacakan : Nurale

Dari pasir panjang yang bertebaran dari segala penjuru arah
Menyapa angin yang membuat kita bersatu
Ingatkah kalian ketika mata pertama tak saling mengenal ?
Awalnya tak satu pun ada rasa yang terkenang
Tak satupun ada cinta yang menaungi
Hanya bisu yang menghalangi lidah yang keluh
Tak berani menyapa dan tak ada yang menyapa
Hanya keheninganmurni yang hinggapi hati

Sampai sebuah nama pahlawan diubah menjadi nama kelas
Tutur yang terucap hanya sekedar gurauan semata
Saling mengenal nama namun bukan cerita
Mencoba menyayangi dan mengubahnya menjadi cinta
Cinta yang tulus, sepenuh hati, tanpa berbelas kasih

Saling memahami sifat
Tersadar tak ada yang buruk
Bukan saling membenci tapi hanya tak saling mengerti
Berbagai ocehan yang terkadang membuat panas hati
Membuat rasa marah menyeringai merah
Ada yang terdiam
Ada yang tak mau diam
Hitam dan putih bercampur rapi
Seperti pelangi indah yang menyapa embun
Dengan berbagai warna yang mempesona

Waktu memang tak akan berputar ulang
Tak akan memberi kesempatan yang sama
Teman yang mulai menemani hari
Mengisi hati dengan cinta dan kasih
Kenangan yang membuat kita tertawa
Dalam sepi atau duduk menyapa hati
Dengan kehangatan bahwa kita adalah KELUARGA
Ya, KELUARGA

Berastagi, 17 April 2015


Sabtu, 14 Maret 2015

Cinta di Ujung Salju

Oleh : Baslan Syahputra

Bening putih mendinginkan malam
Saat ku tatap penuh pesona
Payung hitam mewarnai temaram cahaya
Di balik pohon yang berawan putih

Duduk menyamping menanti
Kesedihan menemani di kala ingin menangis
Menatap kosong tanpa berbelas kasih

Perlahan sang bayu menerpanya
Hujan salju menjadi pertanda
Cinta menanti untuk setia

Pekat malam menyaksikan semua
Begitu juga aku, terpaku pada cinta
Kasih sayang di depan mata
Namun hati tak mampu berkhutbah
Menaungi bibir tanpa berucap

Ku beranjak penuh harap
Membuka pintu tanpa menutup hati
Kuhampiri tanpa sepatah kata
Kursi menebal menyapa sukma
Berlinang air mata
Bisu namun bermakna
Yakin, setia
Cinta dan harmoni
Akan menghampiri
di kegelapan malam
Pada keindahan senja
Di balik hujan mengguyur setiap jengkal
Di ujung salju


Rantauprapat, 14 Maret 2015




Minggu, 25 Januari 2015

Wanita Cahaya

Permata hati tak pernah tampak
Lambaian jilbab yang menarik cinta
terkesan dan terpesona
Cahaya dari sang wanita surga

Kudalami dan kuperhatikan
Senyum pertama dari seorang maya di dunia
Indah permata sejuta kilauan
Tak bisa kubayangkan tentang dirimu

Cinta menghampiri
Tak pasti atau tak berbelas kasih
Aku tak tahu dengan ini
Mengagumimu walaupun hanya kenalan abstrak

Rangkaian lembut dari mulut manismu
Selalu bisa membuatku tersenyum
Selalu ingin bersamamu
Namun jarak dan waktulah yang memisahkan
Hati kita yang terhubung cinta

Kilauan indah dirimu semakin kuat
Membuat silau hatiku karena kecantikanmu
Membuatku terperosok dalam lautan asmara
Sakti bergelora dalam sukma

Aku ingin bersamamu
Namun aku tak sangggup
Mungkin kau menganggapku bukan apa-apa
Tapi aku menganggapmu
Wanita cahaya

Karya Baslan Syahputra


Nama kita berdua : BASYARA

Sabtu, 31 Mei 2014

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia



I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini


II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia. 



Taufik Ismail
1998


-S.a.H-

Kamis, 29 Mei 2014

Sayap Terakhir



Senyum itu menggetarkan dedaunan hati yang sedang tidak ada pada perantauannya
walaupun tak seindah sinar purnama yang jatuh pada stiap jengkal tanah di depan rumahku
tak pantas rasanya tenggelam ke arus cintamu
berat, sangat berat buatku menepi
dari pelabuhan cinta di tepian sungai asmara

Sadar dan terdiam
hanya itu yang menemani setiap jerit di hati
menginginkan tak kesunyian
mengelabui hingga semakin dalam

Membuka lembar baru kehidupan
bersih dan kerontang akan hadirmu
tak bisa kuterpikat olehmu
lagi...

Ketidaksempurnaanku, aku tahu
baik atau bahkan lebih baik, akan selalu mengincarmu
orang yang memang menyanyangimu
batiniah hati berakar suci

Kupu telah keluar dari istananya
awal baru telah kujejaki
setiap inchi sungai hati telah kuarungi
cinta yang dulu berulah
telah kubuang bersama kenangan manis yang mengelabui
mungkin saatnya kita menjadi lebih baik
hanya dengan berteman saja
aku akan kembali pada tanah kokoh ini
tanpamu...



Baslan Syahputra
S.a.H

Minggu, 11 Mei 2014

Pupus Harapan

 
 
Untuk sekian kalinya aku berharap..
Kau adalah yang terakhir untukku..
Namun harapku tetap jadi gelap..
Karna tak ada harapan darimu..

Aku mencintaimu kebih dari yang kau tau..
Namun cintaku tak pernah terlihat jelas dimatamu..
Dan untuk mengakhiri cinta ini yg kita padu..
Sungguh aku tak mampu..

Pernah ku coba tuk menghapus harapan..
Namun tak juga bisa aku lupakan..
Ketika waktu telah berlalu..
Harapan berubah jadi angan-anganku..

Entah dengan apa yang bisa harus ku hapus..
Jika hadirmu di hari-hariku tak pernah pupus..

Namun aku mengerti dirimu..
Seperti aku mengerti cinta ini..
Yg tak seharusnya meminta lebih darimu..
Dan ku coba tuk terima semua ini..
 
 
 
 
By:
Penyair: Iringan Bayu Senja
kumpulanpuisicintalove.blogspot.com

S.a.H

Kamis, 01 Mei 2014

Memang Tak Mudah



Memang tak mudah untuk memulai semangat ini kembali...
setelah lama kau tak lagi hadir di sisi ku...
membentangkan semangat baru ke permadani kalbuku...
yang lama terdiam dalam keriputnya sang waktu...

Memang tak mudah untuk melupakan sejenak masa lalu...
masa yang terindah yang pernah daku dayung di air kehidupan ini ...
menyusuri lekuk lekuk sungai kehidupan yang penuh dengan mata air yang membias diri..
menutup pori pori desah nafas ku yang makin melemah....

Entah sudah berapa langkah yang ku ayunkan...ke arah mu...
untuk menemui mu...dalam kerinduan yang tersekat rasa...
membuka cakrawala baru dalam mata air kehidupan ku...
yang lama tak tersetuh oleh derai tawa canda mu yang menggelorakan jiwa ku...

Sudah ku coba untuk sejenak melupakan masa lalu ku...
namun...tak semudah daku membalikkan telapak tangan ini...
semakin ku coba....justru..semakin nampak dirimu di depan pelupuk mata ku...
menatapku...dan tersenyum mesra ...ke pada ku....
dengan kerlap kerlip bola mata mu yang indah...menyegarkan hatiku...



Adyaksantoro
S.a.H

Lambaian Tanganmu





Lambaian tanganmu...telah mengguncangkan hati ku...
karena ...kita kan berjauhan ...dan tak lagi bisa bersama...
seperti hari hari kemarin...yang penuh dengan gelak canda dan tawa...
penuh dengan kenangan manis...bersama mu...kita berdua...

Ku pergi dari mu...meski untuk sementara waktu...
kenanglah dariku yang engkau sukai...
jangan kenang tentang perpisahan sementara ini...
karena itu kan membuatmu ...bersedih hati...
Engkau tatap diriku dengan wajah sendu...
penuh desah air mata dan keluh kesahmu...
namun...itu tak menyurutkan niat baik ku..
untuk pergi sementara dari sisimu.. yang ku cinta...

Doakanlah daku...agar daku dapat meraih apa yang ku damba selama ini...
sesuatu yang terindah dan terbaik buat kita bersama...
buat kita berdua...
dan masa depan kita...
Untuk sementara waktu...isilah hari hari mu dengan kesibukan diri..
jangan melamun dan bersedih hati..
karena...kesedihan mu...juga duka lara ku...
maka...selalu lah ceria hati...demi kelancaran cita cita ku...
yang telah menumpuk di hati...ku yang selalu ingin membahagiakan dirimu...
juga masa depan kita bersama...., kasih...ku...yang tercinta...




Adyaksantoro
S.a.H

Sabtu, 19 April 2014

Cinta Yang Menjauh



Senja yang jatuh di pelupuk matamu, kekasih
adalah sebait lagu melankolis yang mengalun pilu
pada barisan waktu, 
dan seketika luruh 
lalu menjelma laksana pusara beku
dari helai-helai rindu 
yang terserak hambar sepanjang jalan

“Kesendirian yang menyesakkan,” gumammu gusar.
Dan setangkup asa yang telah kau simpan diam-diam dalam hati
seperti berpendar lembut, juga sia-sia,
menerangi gelap malam serta kelam matamu.

“Pada akhirnya, saat semuanya usai, 
cahaya di ujung lorong akan meredup perlahan, 
lalu lenyap bersama harap”, katamu getir

Dan sebuah cinta yang menjauh akan membuatmu
tersentak sadar 
pada luka kehilangan dan impian yang kandas
di batas cakrawala, 
dan hening tak bertepi

Fajar yang merebak dari bening matamu, kekasihku
adalah serupa kerlip kunang-kunang, 
yang mengisi ruang hampa di sanubari
namun mengguratkan pedih menikam pada sisinya

Dan saat geliat asmara menguap deras ke langit
menyisakan jejak-jejak sunyi
pada redup lampu merkuri,
langkahmu gamang menyusuri
perjalanan menuju tiada
sembari bertanya dengan lidah kelu
apakah luka yang tersayat ini, 
kelak dapat menjelma menjadi permata? 



S.a.H


source : daengbattala.com

Semakin Jauh Tak Terlihat




Dulu kebersamaan itu selalu terngiang oleh desahan daun yang terhempas di kala kita saling bercanda
seolah kegembiraan itu takkan pernah mengenal kata kepunahan
indah di hati
bersama sahabat yang secara tak sengaja
terikat pada suatu wadah keislaman dimana aku ikut di dalamnya
mengarungi setiap kekuatan majelis ilmu
bersama mereka

Aku tak tahu kapan ini terjadi
peristiwa yang menembak relung hatiku
aku pun tak tahu alasannya
mengapa aku tak mau bergabung lagi dengan kekutan majelis itu
apa aku terlalu sakit
sakit jiwa, sakit hati atau sakit pikiran
sama saja bagiku
aku tak tahu kapan ini bermula

Perlahan tapi pasti
kenangan sahabat satu perguruan mulai kuhilangkan
begitu juga kenangan mereka terhadapku
tiba-tiba saja persaan lelah mengejar matahari membuatku tak mau lagi
berurusan dengan hal-hal seperti itu
aku ingin yang sewajarnya saja

Ketika suatu kegemilangan menghampiri
klaim terhadap diriku bahwa aku masih anggota
terngiang hanya untuk menjaring para calon pengikut yang belum ikut
untuk bergabung 
entahlah...biarkan saja seperti itu

Pecahan spekulasi mulai tercecer di sebagian kalangan
mengapa kau berubah ? tanya mereka
entahlah, aku saja tidak tahu
pikiran untuk menjawab selalu terbayang di belakang badanku

Mungkin dengan pengunduran dan pembelotan terhadap kalian
membuat kalian sadar bahwa perjalanan majelis itu bisa sukses tanpaku
aku tak terlalu berharga dalam majelis itu
buat semak sajanya aku ini
bila perlu aku jangan lagi digunakan dalam urusan teratur yang kalian buat
masih banyak yang lebih pandai dariku
mengapa tidak mereka saja yang kalian suruh

Untuk kalian
sukseskanlah majelis itu tanpaku
mungkin nanti
kalian tak akan mengenang seseorang
yang bernama "DIRIKU"



Baslan Syahputra
S.a.HA


Kamis, 17 April 2014

Biarlah Hanya Batasan





kau telah termiliki
padahal ku tlah lama menyukaimu
secara diam diam ku perhatikanmu
dan menginginkan segalanya hanya denganmu

sungguh terlalu ..
ternyata dirinya telah termiliki
setelah sekian lama aku mengagumi
tanpa dia mengetahuinya 

sungguh pupus harapanku padanya
namun tak memupuskan untuk segalanya
aku masih bisa berbagi dengannya
namun tidak untuk memiliki

memang ini salahku tak berkata suka dari dulu
akhirnya semua penyesalahan tepat terasa sesah didada
sungguh aku harus tegar dalam idaman yang
tak akan pernah ku ungkap sudah.

meski batasan ku hanya teman dengan
biarlah hanya batasan
asalkan hati ini bisa terobati
dan selamat semoga kau bahagia cinta




This post was submitted by yhayank aiiu.
S.a.H